Kamis, 10 September 2026

Di Tengah Kesulitan BBM Subsudi, Hendrik Firnanda "Boyong" Komisi III DPRD Bengkalis ke Dinas ESDM Riau

Andrias - Sabtu, 27 Juni 2026 12:04 WIB
Di Tengah Kesulitan BBM Subsudi, Hendrik Firnanda "Boyong" Komisi III DPRD Bengkalis ke Dinas ESDM Riau

Pekanbaru - Persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi menjadi gejolak serta menimbulkan keluhan dikalangan masyarakat Pesisir Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Makin berkurangnya penyalur Agen Premium Minyak Solar (APMS) di daerah perbatasan langsung dengan tetangga jiran Malasysia itu, membuat warga di desa-desa setempat harus menempuh jarak jauh dan menumpuk di titik pengisian.

Baca Juga:


Kendaraan roda dua dan empat harus mengantre berjam-jam, bahkan tak jarang kehabisan bahan bakar sebelum mendapat giliran. Mirisnya, warga juga kesulitan mendapatkan Pertalite di kios-kios pengecer yang selama ini menjadi alternatif dekat disebabkan kosong.

Baca Juga:
Guna mencari solusi agar fenomena akut tersebut dapat teratasi, Wakil DPRD Kabupaten Bengkalis, Hendrik Firnanda Pangaribuan memboyong komisi III DPRD Bengkalis berkordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau.


Rombongan yang tiba, Jumat (26/06/2026) lalu, juga turut dihadiri wakil pimpinan legislarif H. Misno. Tampqk juga hadir diantaranya, Ketua Komisi III Sanusi, Wakil Komisi III Sahat Marganda Tobing, serta anggota Fakhtiar Qadri, dan Sri Mazoli.

Baca Juga:

Hendrik Firnanda, diawal pertemuan mengatakan bahwa masyarakat di Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat saat ini masih menghadapi kesulitan memperoleh BBM bersubsidi.

"Keterbatasan jumlah SPBU menyebabkan antrean kendaraan mengular hingga beberapa kilometer dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat,' kata Hendrik Fernanda.

Ditambahkan politisi senior Partai Gerindra itu, bahwa pihaknya telah banyak menerima berbagai aspirasi dan keluhan masyarakat terkait kondisi tersebut. Selain keterbatasan sarana distribusi, kebijakan yang melarang penjualan BBM secara eceran juga dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat yang tinggal jauh dari SPBU.

Baca Juga:

Sementara, Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Bengkalis, H. Misno, menilai antrean panjang BBM bersubsidi bukan disebabkan oleh kurangnya kuota, karena kuota solar dan Pertalite dinilai sudah mencukupi. Menurutnya, perlu dicari akar permasalahan yang menyebabkan antrean terus terjadi meskipun berbagai upaya koordinasi telah dilakukan.

Baca Juga:
H. Misno menyoroti lemahnya pengawasan distribusi BBM bersubsidi dan meminta adanya pengawasan yang lebih terpadu. Ia mengusulkan pembentukan satgas khusus yang melibatkan seluruh pihak terkait untuk memastikan distribusi BBM berjalan sesuai aturan, menindak tegas SPBU yang melakukan pelanggaran, serta mencegah penyalahgunaan BBM subsidi.

"Saya berharap permasalahan tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kebijakan agar antrean panjang BBM yang merugikan masyarakat tidak terus berulang di Kabupaten Bengkalis," ujarnya.

Ditambahkan juga, Ketua Komisi III DPRD Bengkalis Yong Sanusi menilai pengaturan jadwal penyaluran BBM bersubsidi di SPBU justru memicu antrean panjang dan menyulitkan masyarakat, khususnya nelayan dan petani. Ia meminta BBM yang tersedia segera disalurkan tanpa pembatasan waktu yang berlebihan.

Baca Juga:


"Pentingnya pengawasan terhadap SPBU, penataan antrean yang tertib, serta penerapan SOP yang jelas guna mencegah konflik di lapangan. Saya meminta Dinas ESDM Provinsi Riau memperjuangkan penambahan kuota BBM bersubsidi untuk Pulau Bengkalis, Rupat, Rupat Utara dan Duri, mengingat tingginya kebutuhan masyarakat dan masih terjadinya kelangkaan BBM di daerah kita sebagai penghasil minyak".kata pria kerap disapa Yong Sanusi itu.

Baca Juga:
Anggota komisi lll Fakhtiar Qadri menyampaikan yang menjadi persoalan di Bengkalis adalah masih ada wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, di mana masyarakat sudah sangat sulit mendapatkan BBM bersubsidi. Itu yang menjadi persoalan utama.

"Persoalan BBM di Bengkalis bukan semata-mata terkait kuota atau program QR Code, melainkan distribusinya yang belum berjalan optimal. Meskipun pasokan BBM masuk setiap hari, masyarakat di sejumlah wilayah masih kesulitan mendapatkannya. Karena itu, perlu evaluasi dan pengawasan yang lebih ketat terhadap rantai distribusi, termasuk peran subpenyalur, agar BBM bersubsidi benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak menerimanya. Ungkapnya

Baca Juga:
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi III DPRD Bengkalis Sahat Marganda Tobing turut menyampaikan "perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap penyaluran BBM bersubsidi guna mencegah penyalahgunaan yang dapat merugikan masyarakat. Ia berharap seluruh pihak terkait dapat memperkuat pengawasan terhadap distribusi BBM agar tepat sasaran".

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ismon menjelaskan bahwa kewenangan penetapan kuota BBM bersubsidi berada di bawah kewenangan BPH Migas. Namun demikian, Pemerintah Provinsi Riau berkomitmen untuk mengawal usulan penambahan kuota BBM bersubsidi bagi Kabupaten Bengkalis berdasarkan data kebutuhan riil di lapangan.


Baca Juga:
Ismon mendorong Pemerintah Kabupaten Bengkalis melalui OPD terkait untuk segera menyusun dokumen usulan penambahan kuota yang didukung data pertumbuhan kendaraan, kebutuhan nelayan, serta sektor usaha masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku.

Selain itu, Dinas ESDM turut memperkenalkan pemanfaatan aplikasi Ekstar dari BPH Migas yang dapat digunakan untuk mempermudah akses masyarakat, nelayan dan pelaku usaha mikro dalam memperoleh BBM bersubsidi melalui mekanisme yang telah ditetapkan pemerintah.

Dari hasil pertemuan tersebut, DPRD Kabupaten Bengkalis dan Dinas ESDM Provinsi Riau sepakat untuk terus berkoordinasi dalam mengupayakan penambahan kuota BBM bersubsidi bagi Kabupaten Bengkalis.

Baca Juga:

Dalam waktu dekat, pihak legislatif Bengkalis itu akan melaksanakan rapat koordinasi lanjutan yang melibatkan pihak terkait, termasuk PT Pertamina Patra Niaga dan OPD teknis Pemerintah Kabupaten Bengkalis, guna mencari solusi terbaik terhadap permasalahan distribusi BBM bersubsidi yang terjadi di Bengkalis dan Rupat.

"Dengan adanya pertemuan ini, kita berharap kebutuhan energi masyarakat, khususnya nelayan, petani, dan pelaku usaha kecil di Pulau Bengkalis maupun Pulau Rupat, dapat terpenuhi dengan baik sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan lancar dan berkelanjutan," pungkas Hendrik Fernanda diakhir pertemuan tersebut.

Baca Juga:

Editor
: Andrias
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
BGN Identifikasi 1.999 Dapur MBG Tak Daftar SLHS, Bakal Ditutup
Wakil DPRD Bengkalis, Hendrik Firnanda Pakai Baju Safari Ala Prabowo Hadiri Diklat Laskar Gerindra Riau
Kepala Bakom RI, M Qodari Imbau Warga Bijak Bermedsos Jelang HUT RI
BPK: Opini WTP Bukan Tujuan Akhir Tata Kelola Keuangan
Pemerintah Salurkan Bansos Beras 30 Kg pada Momentum 17 Agustus 2026.
Bengkalis Masuk Daftar 90 Kajari Dirotasi oleh Kajagung, Berikut Ini Lengkapnya
 
Komentar