Senin, 04 Mei 2026

Megawati Beri Pesan di Konferda PDIP Riau: Banteng Tak Ditentukan Jabatannya

Andrias - Sabtu, 22 November 2025 22:42 WIB
Megawati Beri Pesan di Konferda PDIP Riau: Banteng Tak Ditentukan Jabatannya

PEKANBARU - Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto kembali menyampaikan pesan moral dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri saat menghadiri Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) serentak di Pekanbaru pada Sabtu (22/11/2025).

Acara ini dihadiri oleh Ketua DPD PDIP Riau Zukri, jajaran pengurus DPP, dan secara khusus Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil.

Dalam kesempatan itu, Hasto menekankan bahwa PDI Perjuangan harus fokus membangun peradaban politik berbasis pengorbanan dan ideologi, bukan sekadar mengejar kekuasaan transaksional.

Baca Juga:
"Menjadi banteng-banteng PDI Perjuangan tidak ditentukan oleh jabatannya apa, tetapi ditentukan oleh apa yang bisa kita berikan kepada rakyat Indonesia," tegas Hasto.

"Maka pertanyaannya, apakah kita sedang membangun kekuasaan atau kita membangun peradaban?" lanjut Hasto.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga menegaskan komitmen PDIP membangun basis politik di Riau melalui tiga pilar utama, yakni penguatan akar budaya Melayu, penanaman keteladanan sejarah, dan merumuskan cita-cita masa depan.

Hasto menekankan bahwa sumbangsih kultural Riau sangat fundamental bagi persatuan nasional.

Baca Juga:
Hasto memuji keindahan songket dan tarian Riau yang disajikan dalam drama musikal, lalu menyampaikan pantun penghormatan. Lebih dari sekadar apresiasi, Hasto menekankan peran sentral budaya Melayu dalam mempersatukan Indonesia melalui Sumpah Pemuda 1928.

"Meskipun pengguna Bahasa Jawa, Sunda, Batak jauh lebih besar, para pemuda visioner itu mencari suatu tradisi kebudayaan yang menjadi jembatan. Mengapa Bahasa Indonesia yang akarnya Melayu? Maka, banggalah bahasa ini sungguh-sungguh telah menyatukan kita," serunya.

Selanjutnya, Hasto menyampaikan keprihatinan bahwa banyak anak bangsa yang lupa sejarah akibat pendidikan politik yang ahistoris. Ia mengajak kader meneladani pengorbanan sejati, dimulai dari kisah Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak.

"Beliau mempersembahkan kedaulatannya, mahkotanya, pedangnya, dan dana sebesar 13 juta Gulden dipersembahkan bagi Republik yang baru berdiri. Beliau tidak bertanya mau jadi apa, dan akhirnya beliau lebih memilih menjadi rakyat biasa," ujar Hasto.

Ia juga menyoroti Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di usia 26 tahun dengan prinsip non-cooperation melawan kolonialisme terbesar di dunia saat itu. "Seorang anak muda memekikkan dengan lantang: 'Saya mendirikan PNI untuk memerdekakan Indonesia Raya'," ucap Hasto.

Untuk menguji mental kader, Hasto membacakan surat mengharukan dari kader PNI di Ciamis yang akan digantung Belanda, sebagai contoh pengorbanan total demi kemerdekaan. "Bayangkan, sebelum digantung, mereka berkirim surat kepada Bung Karno yang isinya menyatakan pergi ke tiang gantungan dengan hati gembira karena yakin Bung Karno akan melanjutkan peperangan," tuturnya.

Hasto lantas melontarkan tantangan kepada kader yang hadir: "Apakah kita punya keberanian seperti ini? Pemilu baru menghadapi intimidasi, sudah banyak yang takut dan melintir."

Sumber: liputan6

Editor
: Andrias
SHARE:
 
Tags
 
Berita Terkait
Golkar Bela Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud: Kadernya Low Profile
Golkar Sentil PDIP Larang Kader Kelola SPPG
PDIP Terbitkan Surat Edaran Larangan Kader Kelola dan Bisnis MBG
Legislator Partai Gerindra Bengkalis "Digandrungi" Hingga Dapat Apresiasi Dari Emak Emak
Rakernas PSI di Makasar, Jokowi: Saya Akan Bekerja Mati-matian untuk PSI
Dukung Polri Tetap di Bawah Presiden, FSPTI Bengkalis: Langkah Yang Tepat.
 
Komentar